
Namun Merasa nasibnya kurang baik, Mbah Surip mencoba peruntungan dengan
pergi ke Jakarta. Di Ibukota Jakarta, ia bergabung dengan beberapa
komunitas seni seperti Teguh Karya, Aquila, Bulungan, dan Taman Ismail
Marzuki. Pada suatu waktu, nasib menentukan lain. Mbah Surip mendapat
kesempatan untuk rekaman dan akhirnya meraih kesuksesan seperti
sekarang. Dalam perjalanan musiknya Mbah Surip telah mengeluarkan
beberapa album musik. Album rekamannya
dimulai dari tahun 1997 diantaranya :
Karakter inilah yang membuat Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggambarkan sosok Mbah Surip adalah gambaran “Manusia Indonesia Sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa, meskipun seringkali di ledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa tidak pernah dendam, atau membalas ledekan tersebut. Bahkan terkadang Mbah Surip bingung untuk pulang karena kehabisan ongkos. Hasilnya Mbah Surip mengejawantahkan kesusahannya dalam sebuah lagu “minta ongkos pulang”. Dalam lagu tersebut Mbah Surip bercerita tentang pacarnya, meskipun kita ragu kalau Mbah Surip pernah berpacaran.
- Ijo Royo-royo (1997),
- Indonesia I (1998),
- Reformasi (1998),
- Tak Gendong (2003),
- Barang Baru (2004).
Karakter inilah yang membuat Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggambarkan sosok Mbah Surip adalah gambaran “Manusia Indonesia Sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa, meskipun seringkali di ledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa tidak pernah dendam, atau membalas ledekan tersebut. Bahkan terkadang Mbah Surip bingung untuk pulang karena kehabisan ongkos. Hasilnya Mbah Surip mengejawantahkan kesusahannya dalam sebuah lagu “minta ongkos pulang”. Dalam lagu tersebut Mbah Surip bercerita tentang pacarnya, meskipun kita ragu kalau Mbah Surip pernah berpacaran.
Sumber : biografiku.com
Post Comment